Candi Plaosan: Kisah Cinta Antara Dua Agama

Candi Plaosan terletak di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sekitar abad ke-9 Masehi, Candi Plaosan dibangun saat Kerajaan Mataram dipimpin oleh Rakai Panangkaran.

Menurut undip.ac.id, ada kisah cinta antara dua agama di balik candi Hindu-Buddha Plaosan. Saat itu, ada dua dinasti besar di Jawa Tengah: Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya. Dinasti Syailendra memeluk agama Buddha, sedangkan Dinasti Sanjaya, kecuali Rakai Panangkaran, memeluk agama Hindu.

Selanjutnya, menurut Prasasti Plaosan Lor, kedua dinasti tersebut bersatu secara politik melalui pernikahan ketika Rakai Pikatan memimpin Dinasti Syailendra.

Menurut tulisan yang berjudul Toleransi Beragama pada Masa Mataram Kuna, Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, yang menganut agama Hindu, menikah dengan Pramodhawardani atau Sri Kahulunan dari Dinasti Syailendra, yang menganut agama Buddha. Prasasti pendek yang ditemukan di Candi Plaosan Lor menggambarkan kedua nama tersebut, semakin menegaskan bahwa pernikahan yang berbeda agama tersebut benar-benar terjadi. Selain itu, dalam salah satu prasasti pendek yang ditemukan di Candi Plaosan Lor, terukir nama Pikatan. Pernikahan ini juga menyebabkan Dinasti Syailendra dan Dinasti Sanjaya bersatu di Jawa Tengah.

Putri Raja Samarattungga, Pramodhawardani, memilih Rakai Pikatan sebagai pendampingnya sampai akhir hayatnya. Namun, kisah cinta mereka menyebabkan konflik di antara masing-masing anggota keluarga yang beragama berbeda. Mereka keduanya ingin memiliki hubungan yang kuat, itulah sebabnya Rakai Pikatan membangun Candi Plaosan, yang terdiri dari dua bangunan, Plaosan Lor dan Plaosan Kidul, yang masing-masing menunjukkan kisah cinta mereka.

Candi Plaosan ditemukan dalam keadaan runtuh dan rusak, mungkin akibat bencana alam masa lalu, menurut Karmawibangga: Historical Studies Journal. Bencana alam seperti Gunung Merapi dan gempa bumi sering terjadi pada abad ke-10, merusak daerah sekitar. Ini mungkin terjadi saat gempa bumi Yogyakarta pada tahun 2006.

Setelah gempa bumi, Candi Plaosan dipulihkan oleh para arkeologi. Keaslian bahan, lokasi, bentuk, teknologi, dan gaya dipertahankan selama proses pemugaran.

Berawal dari kisah cinta dua agama, arsitektur Candi Plaosan memadukan dua agama yang berbeda. Arsitektur Hindu khas dapat dilihat dari atap candi perwara yang berbentuk ratha, sedangkan arsitektur Buddha khas dapat dilihat dari atap candi yang berbentuk stupa.

Selain kisahnya, Candi Plaosan menunjukkan perpaduan tepat antara kebudayaan Hindu dan Buddha, seperti yang ditunjukkan oleh bentuk dan strukturnya. Bangunannya yang menjulang tinggi menunjukkan peninggalan agama Hindu, dan strukturnya yang lebar menunjukkan peninggalan agama Buddha.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Share Post